RESENSI: THE LADY IN RED BY ARLEEN A

29861520._UY2361_SS2361_

Judul Buku: The Lady in Red
Penulis: Arleen A
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: April, 2016
Tebal: 260 hlm
Ukuran: 13,5 x 20cm
Cover: Softcover
ISBN: 978-602-03-2712-9

Betty…
Sebenarnya tidak ingin bersekolah di sekolah swasta yang mahal itu.
Bersekolah di sana hanya karena mendapatkan beasiswa.
Tidak tahu bahwa itu akan mengubah hidupnya.

Robert…
Sebenarnya tidak suka bersekolah di sekolah swasta yang mahal itu.
Bersekolah di sana hanya karena disuruh orangtuanya.
Tahu bahwa itu memang jalannya ketika ia melihat Betty.

Rhonda…
Tahu ia gemuk.
Tidak tahu bahwa ia menyukai Greg.
Tidak tahu bahwa Greg juga menyukainya.

Greg…
Tahu ia hanya pekerja di peternakan milik keluarga Rhonda.
Tidak tahu apakah ia berhak menganggap tempat itu rumah.
Tidak tahu apakah ia berhak menyukai Rhonda.

Tapi sejauh apapun dirimu pergi
Sejauh apapun perasaanmu menjauh
Selalu akan ada tempat yang menarikmu pulang
Selalu akan ada hati yang menarikmu kembali

***

1920 – 1955
Betty, seorang gadis keturunan Tionghoa, menetap di Amerika karena orangtua mereka menjadi bagian dari pekerja-pekerja Tionghoa yang dikontrak untuk membangun jalur dan terowongan kereta api di Frott Bragg. Walaupun begitu, Betty tetap merasa dirinya adalah orang Amerika karena ia lahir di Amerika, walaupun darah Tionghoa mengalir di dirinya.

Robert, seorang pria Amerika, anak dari pemilik Wotton Dairy Farm.

Kisah mereka bermulai dari Betty yang didaftarkan oleh gurunya untuk mendapatkan beasiswa di Redwood High School karena kepintarannya. Ya, Betty memang gadis yang cantik dan juga pintar. Betty menerima saja beasiswa tersebut dan memulai kehidupan high school nya disana. Bertepatan dengan itu juga, Robert, yang sejak kecil sudah sekolah di Redwood karena kedua orangtua mereka juga alumni dari sana sejak SD, maka mau tidak mau ia mengikuti jejak orangtuanya dan melanjutnya sekolahnya ke Redwood High School juga. Robert tidak menyangka bahwa hari pertamanya ia akan bertemu dengan Betty. Saat itu Betty sedang duduk di kelas sambil menunduk membaca buku. Saat pertama melihatnya itulah Robert tahu bahwa ia menyukai Betty. Robert ingin sekali memegang rambut Betty, namun tidak ada keberanian dalam dirinya, sampai suatu saat munculah kesempatan itu yang dapat dimanfaatkan dengan baik oleh Robert. Dan sejak saat itulah, Robert dan Betty menjadi dekat, kemudian berpacaran, dan akhirnya memutuskan untuk menikah.

2003 – 2020
Cerita untuk sepanjang tahun ini dibagi menjadi 2 bagian, yaitu tahun 2003 – 2012 dan 2015 – 2020
Rhonda, cicit dari Betty, pemilik Wotton Dairy Farm. Memiliki seorang ayah bernama Bruce Roth dan kakak laki-laki bernama Henry Roth. Ibunya meninggal ketika melahirkan Rhonda.

Greg, seorang pekerja Wotton, dimana keluarganya sudah mengabdi selama beberapa generasi untuk Wotton Dairy Farm. Teman main Henry dan Rhonda sejak kecil.

Kisah mereka menjadi kisah lanjutan dari generasi Betty dan Robert. Rhonda yang terlahir sebagai cicit dari Betty, atau biasa disapa Nana Betty oleh Rhonda, berteman dekat dengan Greg, anak dari salah satu pekerja Wotton. Rhonda, Henry, dan Greg sering bermain bersama sejak mereka kecil. Greg selalu menjaga Rhonda. Dan Greg juga selalu menyukai Rhonda. Namun sejak kelas 4 SD, Rhonda sudah jarang mau ditemani dan dijaga lagi oleh Greg, dan waktu yang biasanya dihabiskan bersama Greg, lebih banyak dihabiskan Rhonda bersama teman-teman perempuannya. Hubungan mereka semakin merenggang karena Rhonda memutuskan untuk melanjutkan studi nya di Boston, jauh dari Wotton, dan tentu semakin jauh dengan Greg.

Suatu saat, Rhonda kembali ke Wotton dengan membawa pacarnya yang bernama Brandon. Greg yang tahu hal itu semakin sedih. Apalagi sejak tahu bahwa Rhonda dan Brandon memutuskan untuk menikah. Saat itu juga Greg memutuskan untuk keluar dari Wotton, dengan niatan untuk melupakan Rhonda. Namun siapa sangka, sejauh apapun Greg memutuskan untuk pergi dan menjauh dari Wotton terutama Rhonda, justru semakin banyak hal yang membuatnya kembali ke ‘rumahnya’, Wotton Dairy Farm. Dan saat pulang itu, justru Greg melihat sesuatu yang membuatnya marah.

Apakah yang dilihat oleh Greg? Dan, bagaimanakah akhir dari cinta Greg kepada Rhonda? Apakah mereka bisa bersama sebagai sejoli yang saling mencintai, atau justru mereka akan tetap berstatus sebagai majikan dan pekerja, dan selamanya memendam perasaan masing-masing?

***

“Selalu ada pertama kali untuk segalanya, Greg,” – Rhonda to Greg (hlm 121)

Pernahkah kalian merasa tertantang dalam membaca sebuah buku? Jika kalian bertanya kepadaku, maka aku akan menjawab pernah. Dan inilah kali keduanya aku merasa tertantang dalam menyelesaikan sebuah buku. Tentu minus buku-buku kuliah ya, karena mereka memang kaum yang membuatku sangat tertantang, bahkan untuk membukanya saja sudah membuatku sangat tertantang. Ups, maaf intermezo sedikit 😀

Yap, jadi, membaca The Lady in Red karya Mbak Arleen ini memang suatu tantangan bagiku. Sebelumnnya aku juga pernah merasakan hal ini ketika membaca salah satu karya Lia Indra Andriana yang berjudul Khokkiri.

Jika Khokkiri membuatku tertantang karena ceritanya yang muter-muter dan membingungkan, maka The Lady in Red membuatku tertantang karena gaya penyampaian ceritanya yang cukup berat bagiku. Memang tema yang disampaikan sama dengan buku-buku yang sering aku baca, yaitu percintaan. Tapi yang membuatnya beda adalah dalam buku ini lebih banyak narasinya daripada percakapannya. Yah, aku memang tidak terbiasa dengan kalimat-kalimat yang panjang, mengingatkanku akan buku kuliah. Tapi, entah mengapa, membaca narasi dalam buku ini tidak membosankan. Aku justru semakin tertarik dengan kisahnya dan terus membalik halamannya, dan tanpa sadar ternyata aku sudah menyelesaikan buku ini! ^^

“Kau tidak akan bisa meyakinkan orang lain akan sesuatu yang kau sendiri tidak yakini,” – Peter to Rhonda (hlm 170)

Oke, jadi bagaimana hasilnya? Aku PUAS. Aku suka ceritanya. Bagiku, membaca buku ini seakan sedang membaca kisah perjalanan hidup Betty Liu. Mulai dari bagaimana Betty menikah, dan melahirkan, kemudian mempunyai cicit, dan dilanjutkan dengan kisah dari cicitnya. Renggang waktunya memang panjang, tapi ceritanya jadi pas dan tidak sepotong-potong. Setiap flashback yang mempengaruhi cerita juga disampaikan, sehingga tidak membuat bingung.

Selain cerita itu sendiri, terselip Interlude. Awalnya aku tidak mengerti untuk apa dan apa arti dari Interlude tersebut. Jadi aku hanya membacanya saja dan melewatinya, tapi dalam hati kepikiran juga apasih arti Interlude ini? Nah, setelah melewati satu Interlude, ternyata masih ada Interlude selanjutnya. Kemudian aku mulai menebak-nebak artinya. Dan ding dong deng, tebakanku benar! Yipppi! Yang membuat paling bahagia itu ketika cerita mengajak kita menebak-nebak, kemudian ketika kita mencoba menebak, dan ternyata tebakan kita benar kan? Hahaha… XD

“Ada dua cara orang bisa istirahat. Dengan cara membosankan perlahan-lahan menjelma menjadi perabotan rumah tangga seperti yang sedang kaulakukan. Atau dengan cara menyenangkan seperti yang akan kita lakukan,” – Bryan to Greg (hlm 231)

Dari semua setting tempat yang digambarkan, tempat favoritku adalah Wotton Dairy Farm. Setting peternakan begini sangat jarang sekali diangkat, biasa jika diangkatpun cuma dijelaskan sekilas. Tapi tidak dibuku ini. Kesan peternakan sapi nya jelas banget. Aku bahkan bisa merasakan bagaimana bentuk Wotton Dairy Farm itu dengan bayanganku karena penggambarannya yang bagus. Pekerjaan-pekerjaan apa yang dilakukan juga dijelaskan. Namun penjelasan tentang Wotton Dairy Farm yang detail ini justru tidak menganggu isi cerita itu sendiri kok. Oke banget deh!

“Terkadang risiko memang harus diambil untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan” – Nana Betty to Greg (hlm 278)

Kemudian tokoh favoritku, tentu Gregory Drew alias Greg dong. Memang sih, sikap Greg yang gampang nyerah itu bikin geregetan. Tapi itulah Greg, dan aku suka dengannya J bukan hanya Greg aja sih yang bikin geregetan, bahkan Rhonda pun juga bikin geregetan. Mengenai tokoh Brandon, sejak pertama kali kehadirannya aku sudah tidak menyukainya. Gerak-geriknya mengingatkanku akan salah satu tokoh dalam buku ini juga, dan ternyata…. Yuk baca yuk, penasarankan? XD Ohya, ini pertama kalinya juga aku membaca karya Mbak Arleen, dan dengan membaca buku Mbak Arleen ini, bertambah juga pengalamanku membaca buku dengan genre tulisan yang berbeda dari biasa yang kubaca.

Walaupun seperti kain yang pernah koyak dan telah dijahit kembali, kedamaian yang pernah terganggu tidak akan bisa sama lagi. (hlm 345)

Nah overall, suka sekali cerita yang disampaikan dalam buku ini. Gak nyangka loh, waktu pertama kali baca sinopsis di belakang buku, aku kira tokoh-tokoh ini adalah kawan, ternyata mereka adalah keturunan. Dan aku merasa puas karena rasa tertantangku terbayar dengan hasil cerita yang sangat menarik.

3.5 bintang untuk The Lady in Red!

Ada begitu banyak kemungkinan dalam hidup ini dan kita selalu bertanya apakah tidak ada yang namanya kebetulan? Atau apakah justru memang semuanya hanyalah kebetulan-kebetulan dan hanya kebetulan pulalah yang menghubungkan semua kebetulan-kebetulan itu? (hlm 323)

 

Regards,

Twins J

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s