RESENSI: SAYAP-SAYAP KECIL BY ANDRY SETIAWAN

image

Judul Buku: Sayap – Sayap Kecil

Penulis: Andry Setiawan

Penerbit: Inari

Tahun Terbit: 2015

Harga: Rp 39.500

Tebal: 124hlm

ISBN: 978-602-71505-2-2

Para Pembaca.

Berikut fakta singkat tentang diriku:

1. Namaku Lana Wijaya

2. Ibuku suka memukul dan menyiksaku bahkan dengan kesalahan sekecil apapun. Seperti ketika aku lupa membeli obat nyamuk.

3. Aku punya tetangga baru, cowok cakep yang tinggal di sebelah rumah.

4. Kehadiran cowok cakep tidak mengubah kenyataan bahwa aku sering pergi ke sekolah dengan bekas memar di sekujur tubuhku.

5. Doakan aku supaya bisa lulus SMA secepat mungkin dan pergi dari rumah sialan ini.

Buku ini adalah buku harianku. Aku tidak akan merahasiakannya dan membiarkan kalian untuk membaca kisah hidupku yang tidak terlalu sederhana ini. Mungkin sedikit aneh, tapi aku harap kalian bisa belajar dari aku.

***

“Prinsipku, kalau ingin menyembunyikan sesuatu, lebih baik sembunyikan benda itu di tempat yang tidak diduga orang. Dengan begini, tidak ada orang yang menduga, bahwa buku harian ini adalah bukuku yang penting.” (hlm 7)

Lana Wijaya, seorang gadis yang saat ini sedang menginjak SMA. Hidup berdua bersama ibunya, setelah kedua orangtuanya memutuskan untuk bercerai. Hidup Lana sebenarnya hanyalah hidup yang berjalan dengan sewajarnya, ke sekolah untuk sekolah, dan kembali ke rumah. Namun, hidup normalnya ini harus diwarnai dengan kekerasan yang ibunya selalu lakukan hampir setiap hari kepadanya. Akibat kekerasan itulah, hampir setiap hari pula tubuh Lana penuh dengan memar. Dan artinya hampir setiap hari pulalah Lana selalu berusaha menutupi luka memarnya dari pandangan semua orang, agar tidak ada yang bertanya macam-macam.

Suatu hari, Lana berkenalan dengan seorang teman yang bernama Surya. Dan ternyata teman ini merupakan kakak kelas serta tetangga barunya. Hari-hari Lana seakan timbul warna baru semenjak mengenal Surya. Namun suatu hari, Lana tiba-tiba menemukan fakta baru tentang Surya.

Apakah fakta yang ditemukan Lana? Dan, bagaimanakah kisah akhir dari kehidupan seorang Lana Wijaya? Melalui diarynya, seorang Lana Wijaya akan menceritakan tentang kehidupannya itu.

Manusia pada akhirnya harus menghadapi semuanya sendirian, meskipun dikelilingi banyak orang. (hlm 15)

***

Senjata yang sama jika digunakan terus-menerus memang akan berhasil. Tapi, efeknya berbeda. (hlm 42)

Sayap-Sayap Kecil merupakan buku pertama yang lahir dari Penerbit Inari, dimana penerbit ini pun merupakan imprint baru dari Penerbit Haru. Buku pertama yang diterbitkan oleh Penerbit Inari ini ditulis  oleh Andry Setiawan, dimana ini juga merupakan kali pertama aku membaca karya Kak Andry.

Mengambil tema kekerasan ibu terhadap anak, serta menggabungkannya dengan konsep diary memang suatu ide yang unik. Aku tetap dapat menikmati kisah Lana ini. Rasa-rasanya membaca kisah Lana ini seperti mendengar sendiri Lana yang bercerita langsung. Aku sungguh menikmati diary si Lana ini, benar-benar seperti sedang membaca diary.

Wanita memang mengerikan, selalu tahu apa yang terjadi. (hlm 84)

Tema yang diangkat Kak Andry juga cukup unik, dimana biasanya tema kekerasan itu terjadi di antara anak sekolahan, atau yang biasa dikenal dengan istilah bullying. Merupakan terobosan baru nih menurutku mengangkat tema ini ^^ Dan gak dipungkiri juga, tema inilah yang menjadi salah satu alasanku untuk membaca buku ini. Alasan lainnya? Karena aku penasaran dengan buku pertama terbitan Penerbit Inari 🙂
Secara keseluruhan cerita, aku sangat menikmatinya. Emosi yang disampaikan benar-benar tersampaikan. Aku bisa merasakan apa yang Lana rasakan melalui diarynya ini. Aku juga dibuat bangga dengan sifat Lana yang tetap mencintai ibunya walaupun melihat ibunya yang melakukan kekerasan terhadapnya.

Kau harus tahu bahwa tidak semua niat baik akan dibalas dengan kebaikan pula. (hlm 111)

Tetapi aku merasa kurang nyaman dengan twist yang dilakukan. Menurutku, agak terlalu gimana gitu… Sedikit aneh. Aku pribadi suka dengan twist yang dilakukan, karena membuat cerita tentang Lana gak monoton tentang kekerasan ibunya. Tapi, agak kurang setuju aja sih. But, its okay! Aku masih tetap dapat menikmati cerita tentang Lana ini.

Manusia diciptakan untuk menyesal. Apa lagi yang bisa mereka lakukan jika sesuatu sudah terlanjur terjadi? Hanya menyesal. (hlm 120)

Bukunya tipis, tapi aku sangat nyaman membacanya. Tidak butuh waktu lama untuk menamatkan buku ini. Cocok juga dibaca ketika sedang bosan dan jenuh dengan bacaan-bacaan yang biasanya setebal bantal hehehe…. 😀

3 bintang untuk diary Lana!

Iya, aku mendapatkan sepasang sayap berwarna putih. Sayap itu masih kecil tapi sudah bisa membawaku terbang ke tempat yang aku inginkan. (hlm 122)

Regards,

Twins J

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s