RESENSI: PURPLE EYES BY PRISCA PRIMASARI

29860681

Judul Buku: Purple Eyes

Penulis: Prisca Primasari

Penerbit: Inari

Tahun Terbit: 2016

Harga: Rp 45.000

Tebal: 144 hlm

ISBN: 978-602-74322-0-8

Karena terkadang tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi.

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilik untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkahan patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trodheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.

Pemuda itu masih hidup, dan gadis itu sudah mati.

Hades adalah seorang dewa kematian. Dan Lyre adalah asistennya. Hades bertugas di tempat transit para manusia sebelum manusia itu akhirnya memilih untuk tetap hidup atau mati. Sedangkan Lyre yang bekerja sebagai asisten Hades harus membantunya untuk mengarsip data orang-orang yang sudah mati, rutin membuatkan Hades minuman dengan campuran brandy, serta melakukan apa pun yang diperintahkan oleh Hades.

Suatu hari Hades harus kembali turun ke bumi. Hal yang sudah lama tidak dilakukannya. Ia harus menyelesaikan sebuah masalah yang sedang terjadi di bumi. Yaitu kasus pembunuhan berantai. Pembunuhan yang dilakukan kepada manusia-manusia yang tidak bersalah. Hades bertugas untuk menghentikan pembunuhan tersebut. Dan ia membawa Lyre untuk ikut bersamanya ke bumi, demi rencana yang tidak diketahui oleh Lyre tersebut.

Dan akhirnya mereka berdua turun ke bumi. Tepatnya di negara Norwegia, di kota Trondheim. Demi penyamarannya mereka memutuskan untuk mengubah nama mereka. Halstein untuk Hades, dan Solveig untuk Lyre.

Demi melaksanakan tujuan mereka datang ke bumi, Hades dan Lyre mendatangai seorang keluarga dari korban pembunuhan berantai tersebut. Mereka mendatangi Ivarr. Mereke hanya mendatangi Ivarr dan tidak anggota keluarga lainnya.

“Membenci itu melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih.” (hlm 117)

Lalu apa sebenarnya tujuan Hades dan bagaimana cara ia menghentikan pembunuhan berantai ini? Sedangkan, bagaimana dengan Solveig yang akhirnya mengikutsertakan hatinya ke dalam misi ini? dan juga Ivarr, apa yang akan dilakukan Ivarr untuk adiknya dan juga kepada Solveig?

“Umur 22 tahun atau 200 tahun tidak ada bedanya. Kalau kau sudah meraih semua yang kau inginkan, yang tersisa bagimu hanyalah beristirahat dengan tenang. Dan menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kematian.” –Nikolai (hlm 124)

Ini adalah pertama kalinya saya membaca buku dari Prisca Primasari, dan buku terbitan dari Penerbit Inari. Saya dibuat tertarik membanca buku ini karena hasil review dari teman-teman blogger buku lainnya yang sudah membaca buku ini terlebih dahulu. Saya dibuat penasaran karena mereka semua memberika rating yang baik untuk buku ini, mengingat ternyata buku ini cukup tipis, yaitu hanya 144 halaman. Dan akhirnya saya memutuskan untuk membacanya.

Dan ya! Buku ini sangat baik. Terlepas dari tipisnya halaman buku ini, cerita yang diberikan tidak setipis halamannya. Ceritanya benar-benar tersusun dengan baik. tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Irama ceritanya seimbang. Tidak banyak bagian yang menggantung (atau mungkin tidak ada, ya?), semua mendapatkan penjelasan yang pas.

“Bukan aku yang menentukan kebahagianmu. Kau sendirilah yang menentukannya.” –Nikolai (hlm 125)

Kesan saya membaca buku ini, kisahnya terlalu kelam. Dewa kematian, kehilangan orang terkasih, cinta beda dunia. Bagaimana bisa tidak dibilang terlalu kelam? Semuanya bernuansa gelap. Tapi justru itu daya tarik buku ini menurut saya. Beda dari cerita romance lainnya. Nama tokohnya pun membuat saya takjub. Waktu membaca buku ini saya berpikir kenapa sih penulisnya pakai nama yang asing dan kenapa ga pakai nama yang biasa aja? Cukup sulit untuk melafalkan namanya. Tapi balik lagi, ini adalah keunikan dari penulis. Dan keunikan nama tokoh membuat buku ini menjadi buku yang istimewa.

“Terkadang memang ada yang perlu dikorbankan, demi tujuan yang lebih baik.” –Halstein (hlm 113)

Untuk buku ini saya akan memilih bagian favorit saya daripada karakternya. Karena ceritanya sangat membekas bagi saya. saya suka bagian dimana Hades dan Solveig akhirnya harus menginap di rumah Ivarr karena badai salju. Disana akhirnya Ivarr memberikan hatinya untuk Solveig. Untuk Solveig yang ternyata sudah mati. Dan di rumah Ivarr lah tempat puncak dari rencana Hades. Saya menikmati bagian ini.

“Kalau kau tidak suka, jangan memberi harapan. Kau sama saja menyakiti mereka.” –Nikolai (hlm 34)

Overall, perkenalan saya dengan buku Prisca Primasari dan buku terbitan Penerbit Inari sangat baik. Dan setelah membaca buku ini saya memutuskan untuk mengikuti buku-buku Prisca Primasari selanjutnya. Saya ingin dibuat terkesan lagi dengan cerita, nama tokoh, dan lattar yang diberikan oleh Prisca Primasari di buku selanjutnya.

4,5 bintang untuk cinta antara pria yang masih hidup dan gadis yang sudah mati ini!

“Terkadang, ada sesuatu yang perlu dikorbankan. Demi tujuan yang lebih baik.” (hlm 86)

“Orang yang menangis karena kehilangan itu wajar. Yang tidak wajar adalah kalau kau tidak menangis. Lebih tidak wajar lagi kalau tidak merasa sedih.” –Halstein (hlm 50)

 

Regards,

 

Twins F

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s