RESENSI: APA PUN SELAIN HUJAN BY ORIZUKA

Apapun Selain Hujan

Judul Buku: Apa Pun Selain Hujan

Penulis: Orizuka

Penerbit: Gagasmedia

Terbit: 2016

Harga: Rp 60.000

Tebal: 288hlm

ISBN: 978-979-78-0850-1

Available At: bukupedia.com

Wira membenci hujan. Hujan mengingatkannya akan sebuah memori buruk, menyakitkannya.

Agar bisa terus melangkah, Wira meninggalkan semuanya. Ia meninggalkan kota tempat tinggalnya. Meninggalkan mimpi terbesarnya. Bahkan, meninggalkan perempuan yang disayanginya.

Namun seberapapun jauh langkah Wira meninggalkan mimpi, mimpi itu justru semakin mendekat. Saat ia berusaha keras melupakan masa lalu, saat itulah ia menemui Kayla.

Pertemuan itu mengubah segalanya.

***

Sebuah novel tentang melepaskan mimpi dibawah hujan.

Tentang cinta yang diam-diam tumbuh bersama luka.

Juga tentang memaafkan diri sendiri.

Wira tadinya memiliki segalanya. Faiz dan Nadine yang merupakan sahabatnya, yang paling bisa memahaminya dan juga taekwondo. Akan tetapi dalam waktu satu hari, di perhelatan Jakarta Open Cup Tournament 2013, semuanya yang tadinya indah kini menjadi gelap bahkan menakutkan untuk Wira. Yang tadinya merupakan hal terbaik yang dimiliki berubah menjadi hal yang paling ingin dilupakannya dan dijauhinya. Ketika ia harus melihat temannya sendiri, Faiz meregang nyawa saat bertanding di babak final melawannya. Di saat hujan sedang turun.

Sejak saat itu Wira pergi jauh meninggalkan kota tempat tinggalnya. Setelah lulus dari SMA, Wira memutuskan untuk pindah ke Malang dan melanjutkan kuliahnya disana. Ia memilih untuk menjauhi Jakarta dan tinggal bersama neneknya karena tidak sanggup tinggal di kota yang sama dengan teman-teman sekolah dan klubnya. Di Malang Wira memulai lagi segalanya.

Wira takut hujan. Karena hujan mengingatkannya akan kejadian kelam yang sangat menyakitkan baginya. Membawanya kembali pada Faiz, Nadine dan juga taekwondo. Jika hujan turun, Wira akan memilih untuk menunggu sampai hujan reda baru ia akan pulang kerumahnya.

Akan tetapi semua pelan-pelan berubah ketika satu nama itu masuk ke dalam hidupnya. Kayla. Gadis yang dibantu oleh Wira ketika sedang diganggu para preman. Saat itu juga pertama kalinya bagi Wira menggunakan taekwondo nya untuk membantu gadis itu tanpa sadar. Kayla yang ternyata juga merupakan seorang taekwondoinpun mengetahuinya. Ketika bertemu lagi dengan Wira, Kayla menanyakan hal itu dan langsung disangkal oleh Wira.

Seolah Wira memang dibawa untuk kembali pada taekwondo, kejadian lainnya mendekatkan Wira pada hal yang paling ingin dijauhinya itu. Karena seekor kucing akhirnya mau tidak mau Wira harus mendekati tempat UKM itu dan bertemu dengan taekwondo lagi.

Kayla yang tidak mudah putus asa mencari banyak jalan untuk membawa kembali Wira kepada taekwondo. Yang tidak disadarinya bahwa itu membawa kembali luka dan ingatan kelam Wira di masa lalu. Apa yang akan terjadi dengan Wira selanjutnya? Bagaimana Wira mampu bangkit dari kelamnya masa lalu dan melanjutkan kembali hidupnya? Dan ketika dihadapkan kepada sebuah kenangan pahit, sanggupkan ia berdiri kembali dengan bantuan Kayla atau bahkan Kayla malah memperkeruh keadaan?

“Nggak apa-apa Wira. Selama kamu tahu letak kesalahanmu dan bersedia memperbaiki diri, nggak apa-apa.” –Kayla (hal 56)

***

Setelah terakhir membaca karyanya yang berjudul The Chronicles of Audy: 4/4, akhirnya saya bisa membaca kembali karya kak Orizuka yang terbaru ini. Apa Pun Selain Hujan. Saya mengikuti prosesnya dari mulai pemilihan cover sampai membaca blurb nya. Dan saya langsung jatuh hati dibuatnya. Mungkin salah satunya karena ini buku dari penulis Indonesia favorit saya, hehehe…

Diceritakan dari sudut pandang seorang Wira, saya dapat merasakan sendiri bagaimana perasaan yang dialami seseorang ketika ia sedang berada pada titik terendah dalam hidupnya. Dan saya merasakan itu dalam diri Wira. Penulis menggambarkannya dengan baik. saat-saat rapuhnya Wira tergambar dengan jelas. Ketakutannya pun dapat dimengerti dengan baik. Tidak terlalu berlebihan dan tidak terlalu sederhana. Semuanya dalam takaran yang pas.

“Saya tidak tahu apa yang sudah terjadi pada kamu, tetapi kamu sekarang ada di sini. Kamu sekarang ada di sini. Kamu tidak bisa mundur. Kamu hanya bisa berjuang. “ –Danar (hal 222)

Secara garis besar saya menyukai ide ceritanya. Tentang perjuangan untuk memaafkan diri sendiri dan bangun dari masa lalu. Bahwa tidak baik untuk hidup di masa lalu, ada waktunya kita harus bisa bangkit dan maju ke depan. Buku ini menceritakannya. Bagaimanajatuh bangun yang dialami Wira untuk dapat mencapai ending buku ini.

Saya sempat sebal juga dengan karakter Wira ini. Saya juga geregetan melihat proses bangkitnya Wira. Sampai pertengahan buku kita dapat melihat proses berjalan baik. Wira mampu untuk kembali ke tempatnya yang seharusnya. Sampai disana saya mulai semangat lagi karena merasa senang Wira akhirnya mampu untuk berdiri kembali. Akan tetapi di bagian tengah kebelakang saya harus melihat kembali Wira yang lemah. Disini sempat kesal juga sih. Ternyata ceritanya tidak dibawa mengalir dengan mudah. Perasaan saya diaduk-aduk untuk mengikuti perkembangan Wira ini.

“Ada studi yang bilang kalau hewan peliharaan bisa mengurangi stress dan memperbaiki mood. Dengan membelai bulunya atau memperhatikan mereka bermain kita bisa terhibur.” –Kayla (hal 86)

Karakter favorit saya berikan untuk Kayla. Saya suka karakternya yang diciptakan oleh penulis. Seorang taekwondoin wanita yang blak-blak-an. Banyak bagian yang saya suka dari karakter Kayla. Selain kontribusinya dalam kehidupan Wira yang mampu membawa Wira bangkit, kehadiran Kayla di buku ini juga seperti pemanis. Jika membaca bagian Wira kita akan dibawa kepada kondisinya yang sangat rapuh, sebaliknya dengan Kayla, kita akan dibuat senang setiap kali membaca bagian Kayla maupun setiap dialog yang dilakukan dengan Wira.

Dalam buku ini saya juga menemukan hal yang baru dan banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Saya tidak mengikuti olahraga taekwondo, jadi ketika di bagian awal disuguhkan adegan pertandingan taekwondo yang ternyata setiap aba-abanya diucapkan dalam bahasa Korea saya sedikit kaget. Merupakan pengetahuan baru bagi saya. Lalu setiap pesan yang ingin disampaikan Kak Orizuka seperti apa yang disampaikannya dalam bagian Thanks To benar-benar dapat ditemukan dalam buku ini.

Overall, saya sangat menikmati ceritanya. Bukan cerita biasa. Ketika kamu memilih untuk membaca buku ini, kamu harus siap-siap ketika pada suatu bagian perasaanmu akan dibawa berputar-putar ketika membacanya. Karena aku mengalaminya. Kamu bisa menemukan banyak macam jenis perasaan dalam buku ini. Sedihnya ada, senangnya ada, yang bikin kesal juga ada. Aku merekomendasikannya buat kamu yang pernah berada dalam titik terendah di kehidupanmu. Untuk kamu yang masih sulit untuk berdiri dari masa lalumu yang kelam. Bersama dengan buku ini kita bisa belajar untuk memaafkan diri sendiri.

5 bintang kuberikan untuk buku ini!

“Wira, Nadine, semua orang pernah berbuat kesalahan. Kalian harus belajar memaafkan diri kalian sendiri.” –Ibu Faiz (hal 268)

“Tapi kamu juga punya kuasa untuk mempercayai dirimu sendiri, juga orang-orang yang benar-benar sayang dan peduli padamu.  Kalau kamu selalu percaya omongan orang lain, kamu tidak akan bisa bahagia.” –Uti (hal 254)

 

Regards,

Twins F

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s