RESENSI: BAYANGAN KEMATIAN BY LEXIE XU & ERLIN CAHYADI

Bayangan-Kematian-front

Judul Buku: Bayangan Kematian

Penulis: Lexie Xu & Erlin Cahyadi

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Februari 2016

Harga: Rp 52.000

Tebal: 272 halaman

Ukuran: 13,5 x 20cm

Cover: Softcover

ISBN:978-602-03-2529-3

 

Erin Winata

Aku tidak pernah menyangka kehidupan SMA-ku menjadi rumit.  Bayangkan, baru saja resmi menjadi anak SMA, aku malah melihat pembunuhan. Yang lebih parah lagi, pelaku pembunuhan itu tahu aku telah melihatnya, dan kini mengincar nyawaku! Belum lagi aku harus menghadapi kenyataan bahwa satu-satunya cowok yang kusukai ternyata punya hubungan istimewa dengan sahabatku sendiri. Mana mungkin ada yang lebih sial daripada aku?

 

Lusi Rimba

Tadinya hari-hariku aman, damai, dan cenderung membosankan. Satu-satunya hal yang merecoki ketenangan hidupku hanya Joni alias Jonathan, si cowok sedingin es yang gaya rambutnya sudah keinggalan mode sepuluh tahun. Namun, semua itu berubah saat aku menyaksikan pembunuhan bersama sahabatku. Lebih gawat lagi, korbannya malah menghantuiku dan mengatakan dia akan membalaskan dendamnya kepada kami semua karena sudah membuatnya menderita. Oh Tuhan, bagaimana cara kami meloloskan diri dari pembalasan hantu dengki itu?

***

Cerita ini adalah kisah tentang dua orang sahabat yang menjadikan ruang musik berhantu sebagai tempat yang sangat mereka sukai. Menurut Erin tempat tersebut merupakan tempat yang tenang dan disana terdapat sebuah piano yang dapat ia mainkan setiap saat. Sedangkan menurut Lusi, ruang musik berhantu adalah wilayah kekuasaannya. Novel ini dimulai ketika Erin sedang menjalankan Masa Orientasi Siswa-nya atau yang akrab disebut MOS. Saat itu Erin kesasar dan menemukan salah satu ruangan yang dianggap berhantu dan seluruh siswa tidak boleh memasukinya. Ditempat itulah ia bertemu dengan teman barunya, Lusi, yang juga merupakan murid baru di SMA tersebut. Dari pertemuan pertama tersebut, akhirnya Erin dan Lusi menjalin persahabatan. Lusi yang tadinya menganggap bahwa hidupnya biasa-biasa saja dan cenderung membosankan senang karena akhirnya ada orang yang mau berteman dengannya dan tak menganggapnya kasat mata. Tidak hanya ada Erin dan Lusi, novel ini juga menceritakan dua tokoh pria yang sangat berpengaruh bagi kehidupan dua sahabat itu, yaitu Diego cowok yang pernah menolong Erin ketika ia hampir saja tertangkap oleh pengurus MOS karena memasuki ruang musik berhantu tersebut. Dan Jonathan, cowok berambut polem ketinggalan jaman yang selalu saja merecoki Lusi.

Sampai pada suatu hari ketika Erin dan Lusi sedang berada di ruang musik tersebut mereka menyaksikan kejadian yang tidak mereka sangka akan mereka lihat dalam kehidupan mereka, yaitu aksi pembunuhan. Dua sahabat itu dipertemukan kepada pilihan yang dulit, apakah mereka harus diam saja dan terus bersembunyi dan tetap menutup rapat kejadian pembunuhan itu seolah mereka tidak melihatnya, atau mereka harus menolong korban tersebut yang meminta tolong kepada mereka. Belum lagi Erin yang dipertemukan kepada sebuah kenyataan tentang sahabatnya Lusi. Tentang identitas Lusi yang sebenarnya, tentang hubungan Diego dan Lusi, dan juga tentang perasaan Diego yang sebenarnya kepada Erin dan Lusi.

 

***

Waktu itu minggu kedua bulan Februari, aku kembali berkunjung ke gramedia karena KaLex akhirnya menerbitkan novel barunya setelah Omen Series tamat. Senang banget rasanya karena ga perlu menunggu waktu yang lama lagi buat bisa membaca karya KaLex lagi. Kali ini novel nya ia tulis bersama rekan sesama penulisnya Kak Erlin. Seperti novel-novel sebelumnya, Johan Series maupun Omen Series, novel KaLex kali ini juga berunsur pembunuhan, komedi dan romancenya pun juga ada. Akan tetapi yang membuat novel ini sedikit berbeda adalah unsur horor yang ada didalamnya. Ketika membaca novel ini aku langsung suka banget karena walaupun ini novel duet, tapi KaLex dan Kak Erlin tidak kehilangan gaya penulisan mereka masing-masing. Bagian Erin yang ditulis oleh Kak Erlin sangat menggambarkan gaya penulisan novel-novel teenlit romance biasanya dimana Kak Erlin mengemasnya dengan sangat baik. Sedangkan bagian Lusi yang ditulis oleh KaLex pun demikian, menggambarkan bagaimana novel-novel thriller yang pernah ia tulis sebelumnya. Seperti tokoh Erika di Omen Series. Waktu baca bagian Lusi aku pun langsung berkata “Wah ini KaLex banget deh gaya penulisannya!”. Suka banget karena novelnya benar-benar karya ‘duet’ banget. Buat para penggemar tulisan KaLex kalian pasti bisa tau apa yang saya maksud ketika membaca novel ini nantinya.

“Mulai sekarang kalau lo berisik gue bales hantuin lo. Lo kira gue ga bisa pasang muka seram?” (hal 99)

Apalagi aku dibuat kaget luar biasa ketika tahu identitas asli Lusi sebenarnya. Sampai rasanya ga berani buat terima kenyataan siapa Lusi sebenarnya. Tidak menyangka seorang Lusi tenyata menyimpan banyak rahasia hehehe… cerita mengalir dengan begitu apik dari awal hingga pertengahan. Kejutan-kejutan yang diberikan juga disusun dengan baik oleh mereka berdua. Dengan bumbu-bumbu spoiler yang mereka berikan di tiap halaman yang mengajak pembaca untuk menebak-nebak apa yang selanjutnya akan ditemukan dihalaman berikutnya. Akan tetapi sampai ke bagian ending nya aku sedikit sedih karena teka-teki yang ada di buku ini tentang proses pengungkapan pembunuh kurang begitu terasa seperti halnya Johan Series dan Omen Series. Mungkin karena Erin dan Lusi melihat sendiri proses pembunuhannya, menurutku. Lalu tambahan-tambahan footnote yang menurutku pribadi tidak perlu untuk dimasukkan. Sebaiknya yang tertulis di footnote itu menjadi bagian dari tulisannya saja, tidak perlu diberi footnote. Karena jujur, aku banyak melongkapi footnote yang ada karena menurutku adanya footnote itu justru mengganggu. Sedangkan bagian yang sangat aku suka disini adalah saat-saat dimana kemesraan Diego dan Erin maupun lucunya Jonathan dan Lusi saat mereka sedang bersama-sama. Bahasanya ditulis dengan sangat baik. Dapet banget romance nya dan dapet banget kondisi lucunya.

“ Jangan bodoh! Kalau temen lo memang temen baik, dia gak bakalan mikir kayak gitu. Dia bakalan ngerti, lo melarang bukan karena lo cuma mikirin keselamatan lo sendiri, melainkan juga buat keselamatan dia.” (hal 94)

Pada akhirnya, pesan yang mau aku bagikan ke teman-teman semua adalah rasa percaya antar sahabat itu penting, siapapun sahabatmu itu kamu harus bisa menerima segala kebaikan dan keburukannya ketika kamu memilih untuk menjadi sahabatnya, seperti Erin yang pada akhirnya mau menerima siapa Lusi sebenarnya. Dan jangan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan hal yang kamu inginkan. Karena pasti ada jalan yang lebih baik kalau kita mau berusaha.

“Lebih baik jadi orang miskin tapi hidup di jalan benar daripada menjadi kaya dengan cara licik!” (hal 221)

Aku memberikan 4 dari 5 bintang untuk novel ini. karena selain mendapatkan cerita yang bagus, aku juga mendapatkan 2 hal penting seperti pesan yang aku sampaikan tadi. Buat kalian yang suka baca buku KaLex dan Kak Erlin, kalian harus baca buku ini! dan bagi pembaca yang suka menikmati santapan buku romance-comedy-thriller juga harus cobain buku yang satu ini.

Buku ini bisa kamu dapatkan di bukupedia.com

Regrads,

Twins J

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s